Minggu, 24 November 2019

Nalika Semana

Sega kenduri

Ngger, anakku aku dak kondho
Coba di rungu lan di rasa
Delengen sega kenduri iki
Biyen dadi pangan kang siji
Nalika bapak isih bocah
Sega iki tansah di rayah
Merga jaman larang upa
Ora saben dina muluk sega
Beda karo saiki
Sega kenduri ra di ajeni
Mangka sega iki mberkahi
Di wenehi kanti ikhlasing ati
Mula ya ngger ….
Sega iki ojo di enggo dolanan
Yen pancen gelem ayo di pangan
Dene yen gemang pasrahma liyan
Kareben sega iki di pangan.

Ibu,
Tresna asih ibu
Ora ana kang bisa nggante
’ake
Kesabaran ibu kang kebak wutuh
Ora bisa daklale’
ake
Do’a ibu kang tulus
Tansah ngiringi awakku
Pengorbanane kang tanpa wates
Ora bisa winales
Ibu . . .
Pituturmu bakal dakrungu
Tresna asihmu marang aku
Ora bakal puput
Pandongaku ibu…
Mug
o Gusti tansah nyembadani,
Aamiin…





































Senin, 18 November 2019

Anak Petani Desa (Lare Ndusun)

AKU BANGGA JADI ANAK DESA (ANAK PETANI BURUH)
Kami adalah keluarga yang hidup sederhana, dan aku bangga punya Bapak yang mampu menyekolahkan anaknya. Anak-anak hebat yang punya mimpi hasil didikan seorang petani (petani buruh).
Selalu aku ingat adalah jasa-jasa, sikap, perjuangan, dan ketulusannya yang tiada batas. Bapakku memang hanyalah seorang petani biasa, bahkan mungkin hanyalah seorang buruh tani. Kalau sedang beruntung ayahku juga menjadi petani penggarap. Tugasnya menggarap sawah milik seorang tuan tanah di kampungku. Bapakku tak memiliki sawah ataupun lahan seperti hal orang-orang yang mampu memilikinya. Satu-satunya sawah yang sering dikelola oleh Bapak adalah sawah warisan.
Seperti petani yang lain Bapak selalu berangkat pagi-pagi, setelah melaksanakan sholat subuh. Waktu Perjalanan dari rumah ke sawah ditempuh setengah jam dengan berjalan kaki.
Yang menjadi ingatan sampai saat ini. Waktu itu aku berangkat sekolah, dan Bapak berangkat kesawah. Bapak dan aku sama-sama jalan kaki, kami memang tidak berangkat bersama. Namun di pinggir jalan raya ketika aku berjalan menuju sekolah, aku melihat Bapak di pinggir pematang sekitar kurang lebih 130m dariku, sedang berjalan membawa cangkul dan peralatan lainnya. Hatiku terenyuh. Aku terpikir. Aku berjalan dengan membawa pena dan buku, pergi ke sekolah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di Kecamatan, bebanku pun ringan. Sementara di sana Bapak berjalan dengan cangkul yang berat dan alat-alat pertanian lainnya. Kalau aku yang membawanya sendiri. Aku berjalan untuk menulis dan bertemu dengan teman-temanku dalam suasana riang. Sementara Bapak berjalan untuk mencari nafkah. Bergelut dengan panasnya sinar matahari. Bergulat dengan lumpur-lumpur sawah yang penuh dengan kotoran dan air menghitam tanpa mengenal lelah.
Akupun teringat, kalau semasa kecil Bapak tidak merasakan bangku sekolah seperti yang aku jalani. Bapak hanya sempat mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat, itu pun dengan penuh jerih payah. Sedangkan aku bisa sekolah dari hingga tamat (lulus) Sekolah Lanjutan Tingkat Akhir sama halnya dengan teman-temanku lainnya. Aku memiliki dua bersaudara kakakku laki-laki sudah berkeluarga dikaruniai putri satu yang cantik, kakakku adalah sebagai seorang pekerja biasa, sedangkan adikku perempuan masih kecil.
Dari sana aku pun sadar, bahwa aku dibesarkan dari hasil bertani (petani buruh). Aku bahagia ketika aku bertani, berada di sawah. Hari-hariku aku habiskan dengan sawah. Tentunya karena aku teringat Bapak yang seorang petani. Saat itulah aku berfikir jika setamat SLTA ingin untuk melanjutkan belajar di sebuah perguruan tinggi pertanian terbesar di negeri ini.
Namun aku sadar bahwa untuk belajar ke tingkat perguruan tinggi tidaklah semudah yang diangankan, hingga aku tetap mencari yang terbaik untuk diriku sendiri.
Aku bangga mempunyai seorang petani seperti Bapak. Ia telah ikut serta mendukung program pemerintah dalam hal penyediaan pangan (beras dll).  Petani Adalah Pahlawan Kehidupan. Tanpa mereka kita tidak bisa makan. Tanpa mereka kita tak tahu mau makan apa hari ini.
Ketika melihat petani, aku selalu teringat Bapak, petani yang kulihat dan Bapak mungkin tidak jauh berbeda. Bapak sosok yang kuat, gagah, sabar, tahan panas dan kotor. Cangkul selalu diayunkan untuk mengolah tanah, tanpa menghiraukan apakah cangkul itu akan mengenai kakinya atau tidak. Terik matahari di siang hari tak pernah dihiraukan. Tubuh pun hitam karena terbakar oleh sengatan matahari. Tetapi itulah Bapak, seorang yang berjuang untuk membesarkan anak-anaknya.
Terima kasih BAPAK+IBU!!!. Engkau telah mengajariku menjadi seorang manusia utuh.
By; #larendusun